Legenda Nai Manggale, Dongeng Cerita Rakyat Tapanuli

Legenda Nai Manggale, Dongeng Cerita Rakyat Tapanuli – Kali ini kita bakal bercerita perihal legenda Nai Manggale yang merupakan tidak benar satu cerita rakyat Tapanuli. Dongeng rakyat ini jadi tidak benar satu mitos yang lumayan tenar di Sumatera Utara.

Legenda Nai Manggale, Dongeng Cerita Rakyat Tapanuli

Legenda Nai Manggale, Dongeng Cerita Rakyat Tapanuli 

Pada zaman dahulu pas di Tapanuli, Sumatera Utara, hiduplah seorang pematung tenar bernama Datu Panggana.Ketika dia terima pesanan, dia pergi ke hutan untuk melacak kayu yang paling sesuai dan diukir sesuai pesanan.

Suatu hari, dia mendapat inspirasi untuk mengukir kayu yang dia temukan.

Dia bekerja seharian di bengkel untuk mengukir kayu jadi patung wanita cantik. Kemudian, dia meletakkan patung itu di depan rumahnya.

Kemudian, seorang pedagang muda lewat dan melihat patung itu. Namanya Bao Partigatiga.

Dia benar-benar terkesan dengan keindahan patung itu. Dia lantas meletakkan baju dan perhiasan yang indah di patung itu.

Legenda Nai Manggale, Dongeng Cerita Rakyat Tapanuli 

“Sangat cantik,” katanya pada dirinya sendiri dengan bangga.Patung itu nampak layaknya manusia sungguhan. Kemudian dia meninggalkan rumah Datu Punggana.

Setelah itu, seorang pendeta bernama Datu Partoar dan istrinya melewati patung itu.Mereka juga terkesan dengan keindahan patung itu.

“Saya dambakan berdoa kepada Tuhan sehingga dia hidup layaknya orang sungguhan. Saya dambakan menjadikannya sebagai putri kita,” kata Datu Partoar kepada istrinya.

Pasangan ini belum miliki anak.Para Dewa ternyata mengabulkan doa Datu Partoar dan patung itu berubah jadi gadis yang benar-benar cantik.

Datu Partoar dan istrinya lantas membawa pulang gadis itu.Mereka menamainya Nai Manggale.Berita perihal kecantikan Nai Manggale menyebar ke semua desa.

Semua penduduk desa mampir ke rumah Datu Partoar untuk melihat Nai Manggale. Diantaranya adalah Datu Panggana dan Bao Partigatiga.

Nai Manggale dengan jujur ​​mengatakan kepada penduduk desa bahwa dia sesungguhnya adalah patung yang jadi wanita yang hidup dikarenakan anugerah Tuhan.

Datu Panggana mengejar Datu Partoar untuk mengklaim karyanya sendiri dan Bao Partigatiga juga mengklaim hak untuk hidup patung.

“ Akulah yang mengukirnya berasal dari kayu. Jadi, dia punya saya,” kata Datu Panggana.

“Dia kenakan baju dan perhiasan saya. Jadi, dia perlu pergi dengan saya,” kata Bao Partigatiga.

“Ingat, saya melacak nafkah sendiri sebagai manusia. Jadi dia masih di sini,” Datu Partoar juga turut berargumen.

Ketiga pria itu berdebat. Mereka mengklaim miliki hak Nai Manggale. Untuk menenangkan mereka, seorang Laki-laki tua berasal dari desa memberi tambahan solusi. Namanya Aji Bahir.

“Kalian semua kemungkinan dulu menjalin interaksi dengannya. Datu Panggana, anda adalah pamannya. Bao Partigatiga, anda adalah saudaranya. Dan Datu Partoar, anda adalah ayahnya.” Ketiga pria itu ikuti saran berasal dari Aji Bahir.

Dan mereka senang dikarenakan sekarang mereka jadi keluarga.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *