Cerita Rakyat Sulawesi Tengah Legenda Batu Bagga

Cerita Rakyat Sulawesi Tengah Legenda Batu Bagga – Legenda batu bagga ini memang terlalu sama bersama tidak benar satu cerita rakyat yang berasal berasal dari Sumatera Barat.

Cerita Rakyat Sulawesi Tengah Legenda Batu Bagga

Cerita Rakyat Sulawesi Tengah Legenda Batu Bagga

Hmm kakak tidak akan membocorkan cerita rakyat yang mana, agar kamu membaca dongeng ini sampai selesai.

Yang pasti dongeng yang berasal berasal dari Sulawesi Tengah ini memiliki pelajaran yang sanggup kita ambil.

Dan sampai sementara ini dongeng ini diceritakan secara turun temurun agar sanggup dianggap sebagai legenda masyarakat.

Pada zaman dahulu sementara di pulau Sulawesi, hiduplah seorang pria bernama Intobu.

Ia tinggal berdua bersama anak satu-satunya yang bernama Impalak.

Mereka miskin.

Pekerjaan sehari-hari mereka adalah menjadi nelayan.

Mereka pergi ke laut untuk menangkap ikan tiap-tiap malam, bahkan pada sementara cuaca buruk.

Intobu senantiasa menasehati anaknya, “Menjadi nelayan adalah satu-satunya pendapatan kita. Jangan anggap cuaca buruk sebagai musuh kita.”

Impalak mengangguk.

“Ya, Ayah,” katanya.

Intobu dan Impalak bekerja sebagai nelayan selama bertahun-tahun. Namun berjalannya sementara Impalak menjadi jenuh bersama pekerjaan itu. Dia ingin coba sesuatu yang baru. Dia ingin membuat hidup lebih baik untuk ayahnya dan dirinya sendiri.

Suatu hari, Impalak coba berbicara bersama ayahnya perihal keinginannya.

“… Ayah, maafkan aku,” Impalak menjadi ragu.

“Ada apa, Anakku?” Intobu penasaran lihat sikap anaknya yang aneh.

“Ayah, memang aku ingin berhenti bekerja sebagai nelayan. Saya ingin pergi ke luar negeri dan coba bekerja yang lain,” kata Impalak.

Intobu sedih mendengar keputusan putranya, tapi dia termasuk ingin Impalak sukses.

“Kalau itu keputusanmu, aku tidak sanggup berbuat apa-apa tak sekedar mempersilakanmu pergi. Aku hanya sanggup mendoakan keselamatan dan kesuksesanmu” ucap Intobu.

“Tapi aku ingin kamu senantiasa mengingat tanah airmu. Ingat desa dan ayahmu, yang sudah tua ini.” lanjutnya.

“Ya, Ayah. Aku akan senantiasa ingat. Terima kasih,” kata Impalak bersemangat.

Keesokan harinya, Impalak berangkat ke pelabuhan. Dia lihat Bagga (perahu layar) dan pergi menemui pemiliknya.

“Maaf, Tuan. Saya ingin menyadari apakah aku boleh berlayar bersama Anda?” Tanya Impalak.

Pemilik Bagga terdiam sesaat.

“Ini bukan persoalan bagiku. Tapi mengapa kamu ingin berlayar denganku, dan apakah kamu sudah menghendaki izin berasal dari orang tuamu?” Tanya pemilik Bagga kemudian.

“Saya bekerja di sini sebagai nelayan bersama bapak saya, tapi aku ingin coba peruntungan di luar negeri. Ayah aku setuju bersama rencana saya,” kata Impalak.

“Baiklah, aku akan berlayar besok. Temui aku di sini besok pagi. Ngomong-ngomong, siapa namamu?” Tanya pemilik bagga ini.

“Terima kasih Pak. Nama aku Impalak, Pak,” jawab Impalak senang.

Kembali ke rumahnya, Impalak memberi menyadari ayahnya perihal pertemuannya bersama pemilik perahu Bagga.

“Kapan kau meninggalkan?” Intobu bertanya.

“Besok, Ayah,” jawab Impalak.

Selanjutnya pagi harinya, impalak pergi ke pelabuhan bersama ayahnya. Perahu Bagga sedang bersiap berlayar.

“Cepat, Impalak!” Pemilik Bagga berteriak.

Impalak mencium tangan ayahnya“

“Ayah aku pamit, mohon jaga diri bapak baik-baik,” kata Impalak.

“Pergilah, Nak. Aku memberkatimu,” kata Intobu.

Ada air mata berlinang di mata Intobu sementara lihat Bagga meninggalkan pelabuhan.

Beberapa tahun berlalu. Setiap kali Intobu lihat perahu Bagga, dia senantiasa menghendaki anaknya akan kembali. Tetapi tidak tersedia kabar sama sekali berasal dari Impalak.

Suatu hari, Intobu pergi memancing layaknya biasa.

Dia menggunakan perahu kecil dan menuju ke perairan terbuka dekat pelabuhan. Pada sementara itulah dia lihat Bagga menuju pelabuhan.

Ketika Bagga sudah mendekati sampan Intobu, dia lihat seorang pemuda tampan berdiri di dek depan Bagga ini. Pemuda itu ditemani oleh istrinya yang cantik. Intobu mengetahui pemuda. Dia adalah Impalak putra kesayangannya.

“Impalak, Nak.” Teriak Intobu.

“Impalak! Impalak, anakku!” Intobu berteriak bersama semangat.

Impalak mendengar teriakan ayahnya, tapi dia mengabaikannya.

“Sayangnya, tersedia seseorang di sana yang memanggil namamu. Apa itu ayahmu?” Tanya istrinya.

“Bukan, dia bukan ayahku. Abaikan dia sayang” Impalak malu mengakui bapak tuanya di depan istrinya yang cantik.

Intobu coba mendayung perahunya lebih mendekat ke Bagga, tapi tiba-tiba tersedia ombak besar di lautan.

Perahu Intobu dihantam ombak dan hampir tenggelam.

“Tolong … Bantu aku … Impalak, tolong …!” Intobu berteriak, menghendaki pemberian anaknya.

Tapi Impalak meniadakan ayahnya. Dia bahkan merubah Bagga menjadi berlawanan bersama arah perahu sampan Intobu. Baca Selengkapnya

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *