Cerita Hikayat Abu Nawas

Cerita Hikayat Abu Nawas – Entah sudah berapa hari kasus seorang bayi yang dianggap oleh dua orang ibu yang sama-sama idamkan punya anak.

Cerita Hikayat Abu Nawas

cerita-hikayat-abu-nawas

nadeaucenter2 – Hakim rupanya mengalami ada problem memutuskan dan menentukan perempuan yang mana sesungguhnya yang jadi ibu bayi itu.

Karena kasus berlarut-larut, maka terpaksa hakim menghadap Baginda Raja untuk minta bantuan.

Baginda pun turun tangan. Baginda kenakan taktik rayuan.

Baginda berpendapat barangkali bersama dengan cara-cara yang benar-benar halus salah satu, wanita itu ada yang sudi mengalah.

Tetapi kebijaksanaan Baginda Raja Harun Al Rasyid justru menyebabkan ke dua perempuan tambah mati-matian saling mengaku bahwa bayi itu adalah anaknya.

Baginda berputus asa.

Mengingat tak ada cara-cara lain lagi yang sanggup diterapkan Baginda memanggil abu nawas.

Abu nawas hadir menggantikan hakim. abu nawas tidak sudi menjatuhkan ketentuan terhadap hari itu melainkan menunda hingga hari berikutnya. Semua yang hadir percaya abu nawas tentu tengah mencari akal seperti yang biasa dilakukan. Padahal penundaan itu cuma disebabkan algojo tidak ada di tempat.

Bagi anda yang suka bermain game online silahkan kunjungi link berikut : Bandar Judi Bola

Keesokan hari sidang pengadilan diteruskan lagi.

Abu Nawas memanggil algojo bersama dengan pedang di tangan. abu nawas memerintahkan sehingga bayi itu ditaruh di atas meja.

“Apa yang akan kau perbuat terhadap bayi itu?” kata ke dua perempuan itu saling memandang.

Kemudian abu nawas melanjutkan dialog.

“Sebelum aku mengambil alih tindakan apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang sesungguhnya berhak memilikinya?”

“Tidak, bayi itu adalah anakku.” kata ke dua perempuan itu serentak.

“Baiklah, jikalau kalian sesungguhnya sungguh-sungguh sama idamkan bayi itu dan tidak ada yang sudi mengalah maka aku terpaksa membelah bayi itu jadi dua sama rata.” kata abu nawas mengancam.

Perempuan pertama girang bukan kepalang, sedangkan perempuan ke dua menjerit-jerit histeris.

“Jangan, tolong jangan di belah bayi itu. Biarlah aku sudi bayi itu sepenuhnya diserahkan kepada perempuan itu.” kata perempuan kedua.

Abu nawas tersenyum lega. Sekarang topeng mereka sudah terbuka.

Abu nawas segera mengambil alih bayi itu dan segera menyerahkan kepada perempuan kedua.

Abu Nawas minta sehingga perempuan pertama dihukum sesuai bersama dengan perbuatannya. Karena tak ada ibu yang tega memandang anaknya disembelih.

Apalagi di depan mata.

Baginda Raja jadi bahagia terhadap ketentuan abu nawas. Dan sebagai rasa terima kasih, Baginda menawari abu nawas jadi penasehat hakim kerajaan.

Tetapi abu nawas menolak. Ia lebih bahagia jadi rakyat biasa.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *